Kanali Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan Ternak

PMK atau dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) dan Apthtae Epizooticae adalah penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan virus.

Apa saja gejalanya?

  • Demam tinggi hingga 41 derajat
  • Pembengkakan di kelenjar pertahanan terutama di daerah rahang bawah
  • Sekitar mulut, moncong, gusi, kuku, ambing atau payudara hewan tampak lepuh atau luka
  • Hipersalivasi dan berbusa
  • Tidak mau makan
  • Gemetar atau sulit berdiri
  • Bernapas dengan cepat

Bagaimana penyakit ini menular?

  • Kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan penderita (droplet, leleran hidung, serpihan kulit);
  • Vektor hidup (terbawa manusia, dll.);
  • Bukan vektor hidup (terbawa mobil angkutan, peralatan, alas kandang dll);
  • Tersebar melalui angin, daerah beriklim khusus (mencapai 60 km di darat dan 300 km di laut).

Bisakah menular pada manusia?

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah berdiskusi dengan organisasi kesehatan dunia (WHO) dan badan kesehatan hewan dunia (OIE) untuk memastikan penyakit mulut dan kuku ini hanya menulari hewan.

“Jadi hampir tidak ada yang loncat ke dunia seperti virus SARS-CoV-2 yg loncat dari kelelawar ke manusia," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Bagaimana mencegah penularannya?

Pencegahan PMK pada ternak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu Biosekuriti dan cara medis.

  • Secara Biosekuriti:
    • Mengawasi dan membatasi gerak hewan
    • Memotong jaringan pada hewan yang terinfeksi, hewan baru sembuh, dan yang mungkin berkontak 
    • Disinfeksi perlengkapan kandang, kandang, dan aset ternak yang terkena kontak dengan hewan yang terinfeksi
    • Musnahkan bangkai, sampah, dan semua produk hewan pada area yang terinfeksi sebelum melakukan karantina pada hewan.
  • Secara medis:
    • Memberi vaksin virus aktif yang mengandung adjuvant
    • Karantina terpisah hewan yang terinfeksi